Oleh: XXX
Aku mencoba mengurai takdir di tengah kegerahan hari yang tak tentu. Ketika logika terasa kaku tuk jelaskan tuntas pendakian yang tengah dipijaki. Kemurungan ini karena dan tentang cinta. Cinta menantang logika semua insan untuk membedah. Cinta membuat sesuatu yang mempesona untuk didekati tapi juga berwajah seram sehingga pantas untuk dihindari. Cinta mengguncang kemapanan. Cinta seperti berada dalam tatapan sekejap, dipeluk erat oleh semua insan sebagai kerinduan namun tergelincir di sela-sela rangkulan. Mungkin tangan yang dipakai untuk merangkul tidak menjangkau keberasan cinta dan keeratan pelukan tidak setara dengan kekuatan cinta. Namun cinta selalu dalam tatapan yang menggairahkan. Akhirnya aku sadari bahwa cinta adalah sesuatu yang tak terhampiri dekat. Cinta diam dalam keheningan. Berkata-kata dalam kesorakan.
*******
Laurentina, cinta itu kini menjelma dalam dirimu. Engkau hadir dengan langkah cukup halus menyelinap masuk dan berdiam di palung sanubari. Sosokmu mengusik kesunyian kepada kegirangan. Engkaulah sosok yang telah mengutuk perasaan dan membebaninya dengan tanya yang memaksaku untuk jujur tentang cinta. Karena keanggunanmu yang memberkati aku untuk suatu kepolosan. Sampai aku terjerat dalam kekosongan. Sampai bunga di taman itu tak lagi berwarna. Sampai gelombang di pantai enggan surut. Sampai melodi burung di bukit tak henti bersorak. Semua karena kedatanganmu Laurentina. Engkau mengejutkan semua penghuni alam untuk berhenti bergiat dan menoleh tuk memandangimu. Karena jiwamu tertenun di atas keagungan alam sehingga mencekik semua insan untuk tunduk patuh. Juga aku. Aku tertawan di lembah tanpa jalan keluar. Dan aku temukan kedamaian ketika keheningan lembah merenggut dan merampas paksa kebebasanku.
Laurentina, kenyataanmu adalah kepastian tentang cinta yang terus membangunkan untuk mencinta tanpa takut, tanpa ragu ataupun gelisah. Laurentina, engkau telah memaksaku untuk jujur. Aku sangat menyayangimu meskipun sejatinya cinta kita menuai banyak penolakan. Laurentina, kini kita seperjalanan. Kita merangkai sebuah sandiwara akbar yang tak tertandingi. Kita peragakan di atas kegemerlapan awan yang disaksikan banyak kelopak.
Laurentina, masih membekaskah dalam benakmu kenyataan cinta ketika kita di pantai senja kemarin. Saat kita menghadap samudra dengan satu tatapan. Laurentina, aku terkejut saat mendengar gugatanmu tentang jalinan cinta penuh keterpaksaan yang kelam dan terkubur waktu bahkan gelap yang yang tak mampu ditelusuri ingatanku. Gugatanmu dibarengi pertanyaan yang tak bisa aku jawab sekalipun aku harus menyelami kedalaman laut itu. Laurentina, engkau menatapku dan bertanya dengan suatu keseriusan. Pertanyaanmu barangkali menjadi sebuah hukuman terberat yang mesti kulakoni.
Avelino, sebenarnya apa itu cinta menurutmu??? Sampai sekarang aku tak pernah mengerti tentang arti cinta yang Avelino pahami. Apakah perhatian, kebersamaan yang kita jalani belum bisa membuktikan bahwa cinta itu ada??? Mengapa mereka masih terus meragukan kita, lalu lambat laun tak merestui kisah kita??? Mengapa mereka membenci kita??? Avelino, apakah perjumpaan kita ini telah menghapus keceriaan dan kebahagiaan mereka sehingga mereka terlarut dalam kebencian. Haruskah cinta kita menuai penolakan ini?
Avelino, aku dan cintaku seperti dalam kesalahan. Avelino, haruskah aku juga memutuskan untuk kembali. Haruskah aku pulang, pulang walau dengan tangan hampa. Aku telah mengalami penolakan di bukit. Haruskah aku menuai takdir penolakan ini?
Avelino, apakah engkau adalah cinta yang menjadi jawaban atas semua kegusaranku. Avelino, cintamu masih dalam kelopak kepedihanku. Entah sampai kapan......
Perbatasan, 11 Februari 2023
Untukmu yang setia mencintaiku.
“Di antara genangan air selepas hujan kemarin senja, kutitipkan salamku,
Jangan biarkan cinta itu pergi


0 Comments